• Twitter
  • Technocrati
  • stumbleupon
  • flickr
  • digg
  • youtube
  • facebook

Follow our Network

MENGGABUNGKAN IBADAH SEJENIS

0

Label: ,

Reaksi: 

Apabila dua ibadah sejenis berkumpul maka
pelaksanaannya digabung dan cukup dengan
melaksanakan salah satunya jika keduanya
mempunyai maksud yang sama.

Publication: 1433 H_2012 M
Sumber: Majalah as-Sunnah, No. 12 Thn.XV_1433H,
Rubrik Qawaid Fiqhiyyah

إِذَا اجْتَمَعَتْ عِبَادَتَانِ مِنْ جِنْسٍ وَاحِدٍ تَدَاخَلَتْ
أَفْعَالُهُمَا وَاكْتَفَى عَنْهُمَا بِفِعْلٍ وَاحِدٍ إِذَا كَانَ
مَقْصُوْدُهُمَا وَاحِدًا
Apabila dua ibadah sejenis berkumpul
maka pelaksanaannya digabung dan cukup
dengan melaksanakan salah satunya jika
keduanya mempunyai maksud yang sama.


MAKNA KAIDAH
Kaidah ini merupakan implementasi dari
prinsip taisir (kemudahan) dalam agama yang
mulia ini. Syaikh 'Abdurrahman bin Nashir as-
Sa'di رضي الله عنه mengatakan, "Ini merupakan nikmat
dan kemudahan dari Allah سبحانه و تعالى , di mana satu
amalan bisa mewakili beberapa amalan
sekaligus.

Kaidah ini menjelaskan tentang dua ibadah
atau lebih yang berkumpul dalam satu waktu.
Timbul pertanyaan, apakah seseorang
diperbolehkan hanya melaksanakan salah
satunya, dengan tetap terhitung mengerjakan
semuanya ? Bisakah ia meraih pahala semua
ibadah itu hanya dengan melaksanakan salah
1 Al-Qawa'id wal Ushulul Jami'ah wal Furuq mat Taqasimul
Badi'atun Nafi'ah, Syaikh 'Abdurrahman bin Nashir as-
Sa'di, Tahqiq Syaikh Dr. Khalid bin Ali bin Muhammad al-
Musyaiqih, Cet. II 1422 H/2001 M, Dar al-Wathan li an-
Nasyr, Riyadh, hlm. 93.
satunya ? Para Ulama menjelaskan bahwa hal itu
bisa apabila terpenuhi empat syarat:2
Pertama: Ibadah tersebut jenisnya sama.
Yaitu shalat dengan shalat, thawaf dengan thawaf
dan semisalnya. Jika jenisnya berbeda, seperti
shalat dengan puasa, maka tidak bisa
digabungkan.
Kedua: Ibadah itu berkumpul dalam satu
waktu. Seperti thawaf ifadhah (yang ditunda
pelaksanaannya sampai menjelang pulang ke
kampung halaman) dan thawaf wada'.
Ketiga: Salah satu dari kedua ibadah tersebut
tidak dilakukan dalam rangka mengqadha' ibadah
wajib yang pernah ditinggalkan. Jika salah
satunya dilakukan dalam rangka qadha' maka
kedua ibadah tidak bisa digabungkan. Oleh
karena itu, seseorang yang tertinggal shalat
Zhuhur karena tertidur sampai datang waktu
ashar, maka tidak boleh baginya mengerjakan
hanya empat rakaat shalat dengan niat shalat
Zhuhur dan Ashar. Dia wajib melaksanakan shalat
zhuhur kemudian shalat Ashar.3
Empat: Salah satu ibadah tersebut bukan
pengikut atau pengiring ibadah lainnya.4 Jika
salah satunya pengikut bagi yang lain, maka tidak
bisa digabungkan. Oleh karena itu, shalat sunat
qabliyah Shubuh yang merupakan salah satu
sunat rawatib misalnya tidak bisa digabung
dengan shalat Shubuh, karena shalat sunat
rawatib mengikuti shalat wajibnya. Demikian
pula, orang yang punya hutang puasa Ramadhan

3 Lihat Tuhfatu Ahli at-Thalab fi Takrir Ushul Qawa'id Ibni
Rajab, Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, Tahqiq
Dr. Khalid bin Ali bin Muhammad al-Musyaiqih, Cet. II,
Tahun 1423 H, Dar Ibni al-Jauzi, Damam, hlm. 18.
4 Lihat pembahasan tentang syarat-syarat ini dalam at-
Ta'liq 'ala al-Qawa'id wal Ushulil Jami'ah, Syaikh
Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin, Cet. I, 1430 H,
Muassasah Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin al-
Khairiyyah, Unaizah, hlm. 216.
5 Kaedah-Kaedah Praktis Memahami Fiqih Islami, Ustadz
Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf, Cet. II, Tahun
1432 H/2011 M, Pustaka Al Furqon, Gresik, hlm. 208.
 
dan mengqadha'nya di bulan Syawal dengan niat
qadha' sekaligus puasa sunnah enam hari Syawal
tidaklah mendapatkan kecuali puasa qadha' saja.
Karena puasa Sunnah Syawal tidak bisa
dikerjakan kecuali jika ia telah menyempurnakan
kewajiban puasa Ramadhan.
Sebagian Ulama yang lain menyebutkan dua
syarat tambahan:
1. Hendaknya salah satu ibadah yang digabung
itu lebih besar dari yang lainnya. Seperti
thawaf ifadhah dengan thawaf wada', yang
mana thawaf ifadhah lebih wajib daripada
thawaf wada'; Mandi janabah dengan mandi
Jum'at, di mana mandi janabah lebih wajib
dari mandi Jum'at.
2. Ketika mengerjakan ibadah itu, si pelaku
meniatkan kedua ibadah itu atau meniatkan
ibadah yang lebih besar. Jika ia meniatkan

Talqihul Afhamil 'Aliyyah bi Syarh al-Qawa'idil Fiqhiyyah,
kaidah ke-18.
 
ibadah yang lebih kecil maka hanya itulah
yang ia raih.
Apabila syarat-syarat tersebut terpenuhi
dalam dua ibadah atau lebih, maka ibadah-ibadah
itu bisa digabungkan dan cukup mengerjakan satu
ibadah saja dan mendapatkan pahala semua
ibadah itu. Namun jika dipisah pelaksanaan
masing-masing ibadah tersebut, artinya
masing-masing dilaksanakan, maka tidak
diragukan lagi bahwa itu lebih sempurna.
Pembolehan ini sebagai bentuk kemudahan dan
keringanan bagi mukallaf.

DALIL YANG MENDASARINYA
Kaidah yang mulia ini masuk dalam
keumuman sabda Nabi :صلى الله عليه وسلم
عَنْ عُمَرَ بْنِ الَْْطَّابِ رَضِيَ الله عَنْه قَالَ : سََِعْتُ رَسُوْلَ
الله صلى الله عليه وسلم يقَُوْلُ : إِ نمََّا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ ،
وَإِ نمََّا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نوََى. فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُه إِلَى دُنْيَا
يُصِيْبُهَا أَوِ إِلَى امْرَأَة ينَْكِحُهَا فَهِجْرَتُه إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ
Dari Umar bin al-Khathab رضي الله عنه , ia berkata,
"Aku mendengar Rasulullah صلى الله عليه وسلم
bersabda, "Segala amal itu tergantung
niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan
sesuai niatnya. Barangsiapa hijrahnya karena
dunia yang ingin ia raih atau karena seorang
wanita yang akan dinikahinya, maka hijrahnya
itu kepada apa yang menjadi tujuannya."7
7 HR. al-Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907.
CONTOH PENERAPAN KAIDAH
Di antara contoh permasalahan yang masuk
dalam implementasi kaidah ini adalah sebagai
berikut:
1. Apabila di pagi hari Jum'at seorang laki-laki
dalam keadaan janabah, maka ketika itu
terkumpul padanya dua tuntutan, yaitu
kewajiban mandi janabah dan mandi Jum'at.
Dalam hal ini, jika ia hanya mandi sekali saja
dengan niat mandi janabah dan mandi Jum'at,
atau dengan niat mandi janabah saja, maka
itu sudah cukup, dan ia mendapatkan pahala
dua ibadah tersebut.8
2. Jika seseorang berwudhu kemudian masuk
masjid setelah adzan Zhuhur, maka ketika itu
disyariatkan baginya melaksanakan tiga shalat
sunnah, yaitu shalat sunnah wudhu, shalat
tahiyyatul masjid, dan shalat sunnah qabliyah.
Dalam keadaan ini, cukup baginya
8 Lihat Talqihul Afhamil 'Aliyyah bi Syarh al-Qawa'idil
Fiqhiyyah, kaidah ke-18.
melaksanakan shalat dua rakaat dengan niat
ketiga shalat dan mendapatkan pahala ketiga
shalat tersebut.9
3. Barangsiapa melaksanakan puasa sunnah
enam hari bulan Syawal pada hari-hari yang
disunnahkan berpuasa, seperti puasa hari-hari
bidh,10 maka ia mendapatkan pahala dua
puasa sunnah tersebut, yaitu puasa Sunnah
Syawal dan puasa hari-hari bidh.11
9 Dalam masalah ini Syaikh Muhammad bin Shalih al-
'Utsaimin رحمه الله menjelaskan bahwa jika seseorang
meniatkan ketiga shalat tersebut maka ia mendapatkan
ketiganya. Jika ia meniatkan salah satunya saja maka
jika yang diniatkan adalah shalat sunnah qabliyah, maka
ia juga mendapat ketiganya. Jika yang diniatkan adalah
shalat sunnah wudhu saja maka ia hanya mendapatkan
shalat sunnah wudhu dan tahiyyatul masjid. (at-Ta'liq
'ala al-Qawd'id wal Ushulil Jami'ah, hlm. 217)
10 Hari-hari bidh adalah tanggal 13, 14, dan 15 setiap bulan
hijriyah. Disunnahkan berpuasa pada hari hari tersebut
berdasarkan hadits Abu Dzar رضي الله عنه riwayat at-Tirmidzi
no. 761, an-Nasa-i no. 2422 dan selainnya. Dihasankan
Syaikh al-Albani dalam lrwa-ul Ghalil no. 9947 dan as-
Shahihah no. 1567.

Talqihul Afhamil 'Aliyyah bi Syarh al-Qawa'idil Fiqhiyyah,
kaidah ke-18.
 
4. Jika seseorang menyimak bacaan al-Qur'an
dari dua orang, dan keduanya sama-sama
membaca ayat sajdah, maka cukup baginya
melakukan sekali sujud tilawah saja.12
5. Apabila seseorang bangun dari tidur malam
dan ingin berwudhu, maka ketika itu
terkumpul padanya dua tuntutan ibadah. Yaitu
kewajiban mencuci kedua tangan tiga kali.
sebelum memasukkannya ke bejana,13 dan
Sunnah mencuci tangan tiga kali ketika awal
wudhu. Dalam hal ini, cukup baginya mencuci
kedua tangan tiga kali dengan niat mencuci
yang wajib dan tercakup di dalamnya yang
sunnah, karena ibadah yang kecil tercakup
dalam ibadah yang besar.
6. Jika seseorang masuk masjid dan
mendapatkan jama'ah sedang melaksanakan
shalat dhuhur maka terkumpul pada haknya
ketika itu dua ibadah, shalat fardhu dan shalat.
Kaedah-Kaedah Praktis Memahami Fiqih Islami, Ustadz
Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf, hlm. 211.
Sebagaimana disebutkan dalam HR. al-Bukhari no. 162
dan Muslim no. 278 dari Abu Hurairah .رضي الله عنه
tahiyyatul masjid. Jika ia masuk mengikuti
shalat Zhuhur maka telah tercakup shalat
tahiyyatul masjid sebagai pengikut.
7. Dalam ibadah haji, jika seseorang
mengakhirkan pelaksanaan thawaf ifadhah
menjelang kembalinya ke kampung halaman,
maka ketika itu wajib baginya melaksakan dua
thawaf, thawaf ifadhah dan thawaf wada'.
Dalam hal ini, cukup baginya melaksanakan
satu kali thawaf dengan niat keduanya atau
dengan niat thawaf ifadhah saja dan telah
tercakup di dalamnya thawaf wada' sebagai
pengikut. Adapun jika niatnya hanya thawaf
wada' saja maka ia tidak mendapatkan kecuali
apa yang ia niatkan itu, yaitu thawaf wada'.15
Wallahu a'lam.

14 Talqihul Afhamil 'Aliyyah bi Syarh al-Qawa'idil Fiqhiyyah,
kaidah ke-18.
15 Lihat Taqrirul Qawa'id wa Tahrirul Fawaid, al-Imam al-
Hafizh Zainuddin Abdurrahman bin Ahmad bin Rajab al-
Hambali رحمه الله , Ta'liq Syaikh Abu Ubaidah Masyhur bin
Hasan Alu Salman, Cet. I, Tahun 1419 H/1998 M, Dar
Ibni Affan li an-Nasyri wa at-Tauzi, Khubar, Jilid 1, hlm.
149-150.

Comments (0)

Posting Komentar

Social Media

  • Subscribe via email

    Enter your email address:

    Delivered by FeedBurner

    Techno 4 U