• Twitter
  • Technocrati
  • stumbleupon
  • flickr
  • digg
  • youtube
  • facebook

Follow our Network

Berkarya Seni Rupa

0

Label: ,

Reaksi: 


  A. PENGERTIAN DAN DESAIN RAGAM SENI MEMBATIK
           Kerajinan batik telah lama dikenal di Nusantara (Indonesia). Akan tetapi,
      kemunculannya hingga kini belum diketahui secara pasti. Batik adalah  suatu
      gambar/lukisan yang dirancang dengan bahan dasar kain dan bahan lijin serta pewarna
      (naptol) dengan menggunakan alat canting atau kuas serta teknik tutup celup. Batik dapat
      berupa gambar pola ragam hias atau lukisan yang ekspresif.
           Seiring perkembangannya, untuk mempercepat proses pembuatan batik digunakan cap.
      Selain itu, ada juga kain yang diberi gambar motif batik yang pengerjaannya lebih modern
      dengan teknik printing. Disebut printing karena kain seperti ini bukan kain batik, melainkan
      kain bermotif batik.
            Batik bisa difungsikan secara praktis, yaitu dapat dimanfaatkan untuk memenuhi
      kebutuhan akan pakaian, penutup tempat tidur, taplak meja, kurung bantal, dsb. Selain itu,
      juga bisa difungsikan secara estetis, yaitu batik lukis biasa dibingkai dan dijadikan hiasan
      ruangan. Ragam rias dalam seni rupa biasa berfungsi mengisi kekosongan suaut bidang dan
      juga berfungsi simbolis. Sebagai contoh, ragam hias burung dalam neraka perunggu
      mempunyai simbol arwah nenek moyang. Ragam hias berkaitan dengan pola hias dan motif.
      Pola hias merupakan unsur dasar yang dapat digunakan sebagai pedoman dalam merancang
      suatu hiasan. Adapun motif hias merupakan pokok pikiran dan bentuk dasar dalam
      perwujudan ragam hias yang meliputi segala bentuk alami cipta Tuhan (Allah Swt.), seperti
      manusia, binatang, tumbuhan, gunung, batuan, air, awan, dan lainnya serta hasil kreasi
      manusia. Jadi, ragam hias adalah susunan pada hias yang menggunakan motif hias dengan
      kaidah - kaidah tertentu pada suatu bidang atau ruang sehingga menghasilkan bentuk yang
      indah. Ragam hias terdiri atas:
             a. motif geometris, antara lain pilin ganda, tumpal, meander, swastika, dan kawung;
             b. motif nongeometris, antara lain manusia, binatang, tumbuhan;
             c. motif benda mati, antara lain air, api, awan, batu, gunung, matahari, dsb.

   B. MEDIA MEMBATIK
        1. Bahan
               Bahan untuk membuat batik terdiri atas kain mori/sutera, lilin, dan zat pewarna. Mori
            adalah bahan baku batik yang terbuat dari katun. Kualitas kain mori bermacam-macam
            jenisnya dan sangat menentukan baik dan buruknya kain batik yang dihasilkan. Selain
            kain mori, kain sutera dapat juga digunakan sebagai bahan baku batik, namun harganya
            sangat mahal.
               Kebutuhan akan kain sangat ditentukan oleh fungsinya. Misalnya, membuat sapu
            tangan cukup membutuhkan kain ukuran 40x40 cm, taplak meja membutuhkan kain
            ukuran  100x100 cm, kain jarik membutuhkan kain ukuran sekitar 100x250cm, dsb.
               Lilin adalah bahan yang dipergunakan untuk membatik. Lilin yang digunakan untuk
            membatik bermacam-macam kualitasnya. Kualitas lilin ini berpengaruh terhadap daya
            serap warna kain batik.
                Berikut ini merupakan jenis-jenis lilin:
                a. Lilin Putih, berasal dari minyak latung buatan pabrik.
                b. Lilin Kuning, berasal dari minyak latung buatan pabrik.
                c. Lilin Hitam, berasal dari minyak latung buatan pabrik.
                d. Lilin Tawon, berasal dari sarang lebah.
                e. Lilin Klanceng, berasal dari sarang lebah klanceng.
                f. Gandarukem dan keplak sebagai bahan campuran lilin.

               Zat pewarna untuk membuat batik dapat diperoleh dari alam dan buatan pabrik.
            Untuk batik klasik, zat pewarna diperoleh dari alam. Misalnya, warna hijau dari daun
            jarak kepyar, warna merah dibuat dari daun jati muda, dan warna kuning dibuat dari
            rimpang kunyit campur dengan kapur sirih. Batik tradisional dan modern sudah
            menggunakan zat pewarna buatan pabrik, yaitu naptol dan garam. Wujudnya berupa
            serbuk, dan dapat dilarutkan dengan air dingin. Untuk aturan penggunaan naptol dan
            garam disesuaikan dengan kebutuhan.

        2. Alat
                 Peralatan untuk membatik antara lain seperti berikut.
              a. Canting, yaitu alat pokok membatik yang menentukan apakah pekerjaan disebut
                  batik atau bukan batik. Canting berfungsi untuk menulis atau melukiskan cairan lilin,
                  membuat motif - motif batik yang diinginkan. Alat ini terbuat dari tembaga yang
                  dipadukan dengan bambu sebagai tangkainya. Canting terdiri atas tangkai, badan
                  canting yang berfungsi untuk mengambil dan menampung cairan lilin dari wajan dan
                  carat, pipa kecil melengkung untuk jalan keluar cairan lilin. Menurut fungsinya,
                  canting dapat dibedakan menjadi dua yaitu canting reng-rengan (batikan pertama
                  kali sesuai dengan polanya) dan canting iseng (mengisi bidang batik). Menurut besar
                  kecilnya, canting dibedakan menjadi tiga, yaitu canting kecil, canting sedang, dan
                  canting besar. Menurut banyaknya carat, dibedakan menjadi tiga yaitu canting
                  cecekan, canting loron (bercarat dua), dan canting talon (bercarat tiga).

              b. Kuas, suatu alat yang berfungsi untuk menutup bidang yang luas, sehingga cepat
                  selesai. Pilihlah kuas yang tahan panas.
      
              c. Wajan/penggorengan, yaitu peralatan yang terbuat dari logam baja yang berguna
                  untuk mencairkan lilin untuk membatik. Ukuran wajan untuk membatik biasanya
                  kecil. Wajan yang baik hendaknya memiliki tangkai, sehingga mudah untuk diangkat
                 dan diturunkan dari kompor.

              d. Kompor, suatu alat yang berfungsi untuk memanaskan wajan sehingga lilinnya
                  mencair.

              e. Gawangan, peralatan yang berguna untuk membentangkan kain yang dibatik.

              f. Sarung tangan, berfungsi untuk melindungi agar tidak ikut terwarnai dalam proses
                  pewarnaan.

              g. Dandang besar, berguna untuk proses pelarutan lilin yang melekat pada kain dengan
                  merendam dan mendidih.

              h. Seterika, berfungsi untuk menghilangkan lilin pada kain.


   C. LANGKAH MEMBATIK

        1. Desain, yaitu menggambar pola hias pada kertas gambar.
        2. Persiapan, yaitu dengan meletakkan semua peralatan membatik untuk diletakkan
            didekatnya.
        3. Proses membatik, yang terdiri atas sebagai berikut.
            a. Lilin yang sudah memcair diambil dengan canting.
            b. Menuangkan lilin dalam canting melalui carat diatas permukaan kain sesuai dengan
                garis gambar. Kalau perlu, carat ditiup agar lilin tidak menyumbatnya.
            c. Kain diberi isen-isen (isian yang berupa titik, garis, bidang, tekstur) dengan lilin.
            d. Kain dicelupkan pada wadah yang sudah ada pewarnanya, kemudian dicelupkan pada
                wadah yang berisi larutan garam.
            e. Kain ditutupi dengan lilin pada bidang gambar yang dikehendaki untuk warna pertama.
            f. Kain dicelupkan pada wadah yang sudah ada pewarnanya, kemudian dicelupkan pada
                wadah yang berisi larutan garam.
            g. Kain ditutupi dengan lilin pada bidang gambar yang dikehendaki untuk warna ketiga.
            h. Kain dicelupkan pada wadah yang sudah ada pewarnanya, kemudian dicelupkan pada
                wadah yang berisis larutan garam.
             i. Kain ditutupi dengan lilin pada bidang gambar yang dikehendaki untuk warna ketiga.
             j. Kain dicelupkan pada wadah yang sudah ada pewarnanya, kemudian dicelupkan pada
                wadah yang berisi larutan garam. Mewarnai batik dimulai dari warna yang paling muda
                menuju warna yang paling tua (kuning, jingga, hijau, biru, merah, cokelat, merah hati,
                hitam). Jika menghendaki satu warna saja, cukup dicelup satu kali saja.
            k. Kain dimasukkan kedalam dandang yang berisi air mendidih dan soda abu untuk
                melarutkan lilin.
             l. Menghilangkan lilin yang melekat pada kain dengan seterika yang beralaskan kertas
                koran.
           m. Selanjutnya dikeringkan dibawah sinar matahari. Setelah itu, dilipat dengan baik.

   D. BERKREASI SENI RUPA
        1. Persiapan Alat dan Bahan
               Teknik berkarya seni rupa terapan dapat menggunakan bahan lunak maupun bahan
               keras yang dapat dilakukan dengan 5 teknik sbb.
             a. Teknik Butsir, yaitu teknik membentuk dengan cara mengurangi atau menambah
                 bagian dengan menggunakan bahan lunak seperti tanah liat dan lilin mainan. Untuk
                 tanah liat menggunakan alat bantu yang dapat dibuat sendiri dengan kawat baja
                 yang dibengkokkan kemudian dikaitkan dengan tangkai dari kayu atau bambu. Untuk
                 keramik bisa menggunakan meja putar.
             b. Teknik Cetak atau Cor, yaitu suatu cara berkarya dengan menggunakan model
                 terlebih dahulu kemudian membuat cetakan yang dapat digunakan berulang - ulang
                 dalam jumlah banyak.
             c. Teknik Plester, dilakukan dengan cara menempel dan biasanya menggunakan bahan
                 campuran semen dan pasir.
             d. Teknik Sambung/Merakit, dengan menggunakan media bambu, kayu, logam, dsb.
                 Contoh karya yang memiliki teknik ini banyak ditemui pada souvenir atau
                 cinderamata.
             e. Teknik Pahat dan Sungging, yaitu teknik dengan cara mengurangi, baik dengan
                 menggunakan  media kayu maupun kulit (sungging). Contoh karya ini dapat ditemui di
                 daerah Bali. Pada kerajinan kayu kita dapat mengamati bahwa hampir tidak ada kayu
                 yang terbuang. Yogyakarta terkenal dengan kerajinan kulit.

        2. Desain Karya/Sketsa
                    Dalam proses penciptaan karya seni rupa dua dan tiga dimensi seorang kreator
            menuangkan ide - ide nya dapat melalui beberapa tahapan yang meliputi:
            a. Tahapan pertama adalah rancangan atau desain untuk menemukan suatu bentuk yang optimal.
            b. Tahapan kedua adalah penyelesaian dengan media yang disesuaikan. Keberhasilan karya dua dan
                 tiga dimensi ditentukan oleh pengaturan atau penyusunan unsur-unsur seni rupa dalam sebuah
                 kesatuan. Unsur seni rupa, yaitu titik, garis, bidang, bentuk, gelap terang, dan tekstur.

                     Unsur-unsur tersebut apabila disusun dengan memerhatikan beberapa kaidah-kaidah tertentu
             akan menghasilkan karya menarik yang disebut komposisi. Komposisi adalah sususan unsur-unsur
             tertentu yang menghasilkan karya baru yang lebih bermakna. Kaidah-kaidah komposisi meliputi
             berikut.
            a. Kesatuan (Unity), merupakan prinsip utama dalam penataan komposisi desain, sehingga perlu
                diperhatikan antar yang saling menunjang dalam penataannya. Tipe kesatuan dapat digolongkan
                menjadi tiga, antara lain:
                1) Kesatuan statis memiliki sifat tenang dan stabil.
                2) Kesatuan dinamis memiliki sifat fleksibel atau mudah menyesuaikan.
                3) Kesatuan metatatis memiliki sifat campuran antara kedua sifat statis dan dinamis.
            b. Keseimbangan (Balance), artinya tidak berat sebelah yang dibedakan menjadi:
                1) Keseimbangan simetris (formal balance), yaitu unsur bagian kanan dan kiri sama persis, kesan
                yang ditimbulkan monumental, tenang, dan agung. Sebagai contoh, hiasan kala makara pada pintu
                masuk candi, hiasan tenun atau kain ikat Nusa Tenggara, topeng dari Bali dan Cirebon, maupun
                gunungan pada wayang kulit Jawa.
                2) Keseimbangan simetris atau tidak simetris (inomal balance), yaitu unsur-unsur yang dipadukan
                antara bagian yang satu dengan yang lain tidak sama, namun masih memiliki kesan rasa seimbang.
                Tidak ada kesan rasa berat pada bagian - bagian tertentu.
                3) Keseimbangan memusat (sentris), yaitu penyusunan unsur-unsur rupa secara terpusat yang
                menghadirkan fokus terletak ditengah-tengah bidang. Kesan yang ditimbulkan adalah kaku dan
                formal karena unsur-unsur cenderung disusun teratur.
            c. Irama (Rhythm), yang mempunyai suatu susunan teratur yang ditimbulkan dari pengulangan
                sebuah unsur atau beberapa unsur sehingga menimbulkan kesan adanya hubungan yang kontinu
                (terus menerus) dan memiliki kesan gerak. Macam-macam tipe irama adalah seperti berikut.
                 1) Tipe repetif atau steoritip, pengulangan unsur-unsur yang sama.
                 2) Tipe alternatif, pergantian (selang seling) antara unsur-unsur yang berbeda antara warna,
                     bentuk, ukuran, dan sbg.
                 3) Tipe progresif, pengulangan dengan perubahan pembesaran atau perubahan bentuk dan sbg.
                 4) Tipe pengulangan yang teratur.

         3. Membuat Karya Terapan Dua/Tiga Dimensi Nusantara
                     Proses mengenai seni grafis murni (seni rupa dua dimensi perlu diawali dari hal-hal sederhana
             dengan bahan yang ada disekitar kita, denga harapan tumbuh keinginan untuk berkreasi.

Comments (0)

Posting Komentar

Social Media

  • Subscribe via email

    Enter your email address:

    Delivered by FeedBurner

    Techno 4 U